Selasa, 13 September 2011
Senin, 09 Mei 2011
4 Cara Efektif Hindari Sakit Jantung
Sakit jantung adalah pembunuh paling sadis. Setiap tahun, puluhan juta orang di dunia meninggal akibat penyakit ini dan ada jutaan orang yang divonis sebagai pengidap baru. Sayangnya, sebagian besar masyarakat belum tahu bahwa sakit jantung sebenarnya dapat dicegah melalui cara alami dan pengaturan pola makan.
Perubahan dalam diet dapat menekan risiko mengalami serangan jantung hingga 81 persen.
Para ahli dari Eropa yang tergabung dalam European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC) beberapa tahun terakhir ini melakukan studi mengenai pola dan asupan nutrisi di 10 negara Eropa. Riset ini juga menyusun cara atau strategi dalam menekan risiko mengidap penyakit pembuluh darah dan jantung.
Menurut peneliti dan pakar diet penulis Your Healthy Weight Loss Plan, John Phillip, hasil berbagai riset menunjukkan bahwa penyakit jantung dapat terbentuk sejak awal hidup seseorang dan kemudian berkembang menjadi ancaman mematikan saat mereka beranjak dewasa. Kabar baiknya adalah risiko penyakit jantung dapat dikendalikan dan dihindari dengan membuat perubahan sederhana pada gaya hidup dan diet seseorang.
Riset EPIC yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Internal Medicine menunjukkan bahwa perubahan dalam diet dapat menekan risiko mengalami serangan jantung hingga 81 persen. Melalui pengaturan diet yang tepat, risiko inflamasi dapat diturunkan dan tekanan darah menjadi terkendali.
Para ahli menekankan empat faktor penting yang dapat dilakukan seseorang untuk dapat menghindari risiko mengidap penyakit jantung:
1. Kurangi makanan mengandung karbohidrat olahan, gula, dan padi-padian.
Makanan olahan kini telah menjadi menu pokok setiap hari. Padahal, makanan ini mengandung karbohidrat sederhana yang mudah sekali diproses menjadi glukosa dan menyebabkan gula darah meningkat dalam waktu singkat. Inilah yang menjadi pemicu terjadinya resistensi insulin dan menyebabkan penebalan dalam lapisan endothelial pembuluh koroner. Disarankan untuk secara bertahap mengurangi makanan dari jenis roti, pasta, nasi, makanan bergula, dan semua makanan yang berbahan gandum atau jagung.
2. Batasi minyak nabati Omega-6.
Minyak nabati atau vegetable oil relatif stabil pada suhu ruang dan biasa digunakan dalam hampir seluruh proses pemanggangan dan pengolahan makanan untuk menambah aroma dan membuat lebih awet. Menurut para ahli, mengonsumsi minyak nabati secara berlebihan juga dapat memicu pelepasan zat kimia yang meningkatkan stres oksidatif dan memicu kerusakan pada sistem pembuluh darah. Sebaiknya hindari penggunaan minyak nabati untuk memasak dan batasilah menyantap makanan yang digoreng.
3. Jangan lupakan asam lemak Omega-3
Pola makan modern hampir tidak pernah memasukkan makanan sehat yang mengandung asam lemak Omega-3, yang sebenarnya pernah menjadi bagian dari diet manusia selama berabad-abad. Menurut para ahli, rasio yang ideal antara kandungan asam lemak Omega-6 dan Omega-3 dalam menu makanan 1:1.
Para ahli juga setuju bahwa kebanyakan orang di Eropa saat ini mengasup makanan dengan rasio 20:1. Alhasil, fenomena ini menimbulkan ketidakseimbangan dan memicu inflamasi yang bersifat sistemik. Saran dari para ahli, masukkan jenis-jenis ikan, seperti tuna, salmon, dan sarden, kacang-kacangan, dan biji-bijian untuk menyeimbangkan rasio asupan lemak Anda atau dengan cara mengonsumsi suplemen minyak ikan.
4. Hindari stres oksidatif
Akitivitas normal tubuh seperti bernapas, makan, dan bergerak dapat menghasilkan radikal bebas yang merusak struktur genetik dan menyebabkan kolesterol buruk (LDL) teroksidasi. Kita tidak dapat mencegah proses ini sepenuhnya. Akan tetapi, kita dapat meredamnya dengan cara mengonsumsi sayuran segar, buah-buahan dari jenis beri, dan suplemen tertentu untuk menekan dampak radikal bebas pada kesehatan jantung dan organ lainnya.
Perubahan dalam diet dapat menekan risiko mengalami serangan jantung hingga 81 persen.
Para ahli dari Eropa yang tergabung dalam European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC) beberapa tahun terakhir ini melakukan studi mengenai pola dan asupan nutrisi di 10 negara Eropa. Riset ini juga menyusun cara atau strategi dalam menekan risiko mengidap penyakit pembuluh darah dan jantung.
Menurut peneliti dan pakar diet penulis Your Healthy Weight Loss Plan, John Phillip, hasil berbagai riset menunjukkan bahwa penyakit jantung dapat terbentuk sejak awal hidup seseorang dan kemudian berkembang menjadi ancaman mematikan saat mereka beranjak dewasa. Kabar baiknya adalah risiko penyakit jantung dapat dikendalikan dan dihindari dengan membuat perubahan sederhana pada gaya hidup dan diet seseorang.
Riset EPIC yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Internal Medicine menunjukkan bahwa perubahan dalam diet dapat menekan risiko mengalami serangan jantung hingga 81 persen. Melalui pengaturan diet yang tepat, risiko inflamasi dapat diturunkan dan tekanan darah menjadi terkendali.
Para ahli menekankan empat faktor penting yang dapat dilakukan seseorang untuk dapat menghindari risiko mengidap penyakit jantung:
1. Kurangi makanan mengandung karbohidrat olahan, gula, dan padi-padian.
Makanan olahan kini telah menjadi menu pokok setiap hari. Padahal, makanan ini mengandung karbohidrat sederhana yang mudah sekali diproses menjadi glukosa dan menyebabkan gula darah meningkat dalam waktu singkat. Inilah yang menjadi pemicu terjadinya resistensi insulin dan menyebabkan penebalan dalam lapisan endothelial pembuluh koroner. Disarankan untuk secara bertahap mengurangi makanan dari jenis roti, pasta, nasi, makanan bergula, dan semua makanan yang berbahan gandum atau jagung.
2. Batasi minyak nabati Omega-6.
Minyak nabati atau vegetable oil relatif stabil pada suhu ruang dan biasa digunakan dalam hampir seluruh proses pemanggangan dan pengolahan makanan untuk menambah aroma dan membuat lebih awet. Menurut para ahli, mengonsumsi minyak nabati secara berlebihan juga dapat memicu pelepasan zat kimia yang meningkatkan stres oksidatif dan memicu kerusakan pada sistem pembuluh darah. Sebaiknya hindari penggunaan minyak nabati untuk memasak dan batasilah menyantap makanan yang digoreng.
3. Jangan lupakan asam lemak Omega-3
Pola makan modern hampir tidak pernah memasukkan makanan sehat yang mengandung asam lemak Omega-3, yang sebenarnya pernah menjadi bagian dari diet manusia selama berabad-abad. Menurut para ahli, rasio yang ideal antara kandungan asam lemak Omega-6 dan Omega-3 dalam menu makanan 1:1.
Para ahli juga setuju bahwa kebanyakan orang di Eropa saat ini mengasup makanan dengan rasio 20:1. Alhasil, fenomena ini menimbulkan ketidakseimbangan dan memicu inflamasi yang bersifat sistemik. Saran dari para ahli, masukkan jenis-jenis ikan, seperti tuna, salmon, dan sarden, kacang-kacangan, dan biji-bijian untuk menyeimbangkan rasio asupan lemak Anda atau dengan cara mengonsumsi suplemen minyak ikan.
4. Hindari stres oksidatif
Akitivitas normal tubuh seperti bernapas, makan, dan bergerak dapat menghasilkan radikal bebas yang merusak struktur genetik dan menyebabkan kolesterol buruk (LDL) teroksidasi. Kita tidak dapat mencegah proses ini sepenuhnya. Akan tetapi, kita dapat meredamnya dengan cara mengonsumsi sayuran segar, buah-buahan dari jenis beri, dan suplemen tertentu untuk menekan dampak radikal bebas pada kesehatan jantung dan organ lainnya.
Terapi Enzim untuk Sehat dan Panjang Umur
Dalam bukunya, “The Miracle of Enzyme”, Dr. Hiromi Shinya menjelaskan tentang pentingnya enzim bagi kesehatan manusia. Penelitian Energi 5 Elemen memang memperlihatkan kebenaran mengenai enzim untuk kesehatan dan panjang umur.
Makanan Tidak Sehat Menghabiskan Enzim
Bila kita sering mengonsumsi makanan tidak sehat seperti goreng-gorengan, makanan yang dipanggang, atau makanan pabrik yang dibuat dengan temperatur tinggi, enzim ditubuh kita akan terkuras. Hal ini disebabkan organ di tubuh kita tidak mampu menghasilkan enzim yang diperlukan untuk metabolisme. Ludah yang seharusnya mengandung 5 jenis enzim, ternyata tidak mempunyai enzim lagi. Demikian pula dengan organ-organ lainnya seperti hati, lambung, usus, ginjal, pankreas. Semuanya kelelahan dan tidak mampu menghasilkan enzim lagi.
Dari pemeriksaan jumlah enzim, umumnya orang dewasa sudah kehabisan enzim, sehingga tidak mempunyai enzim lagi di dalam tubuhnya.
Selanjutnya, organ-organ tubuh ini akan mulai sakit.
Makanan Sehat Menstimulasi Pembentukan Enzim
Setelah menjalani terapi makanan sehat 5 elemen selama 2 minggu, organ tubuh dari orang yang menjalaninya akan mulai memproduksi enzim kembali. Dimulai dengan 5 enzim, kemudian akan meningkat menjadi 10, dan kemudian menjadi 15 enzim.
Organ tubuh yang mulai sehat akan mulai menghasilkan enzim, dimulai dengan 1 enzim, dan akhirnya meningkat menjadi 5 jenis enzim.
Idealnya, masing-masing organ bisa menghasilkan 5 jenis enzim. Kelenjar ludah bisa menghasilkan 5 jenis enzim, hati, ginjal, pankreas, lambung, usus, semuanya seharusnya mampu menghasilkan 5 jenis enzim.
Indeks Enzim: Mengukur Rahasia Sehat dan Panjang Umur
Dari analisis energi dengan menggunakan Indeks Enzim terhadap orang-orang sehat dan panjang umur yang saya kenal, seperti kakek berusia 87 tahun, nenek berusia 93 tahun, nenek berusia 98 tahun, ternyata mempunyai enzim sebanyak 25 jenis di dalam tubuhnya.
Hal ini tentu kontras sekali dengan orang berusia 30-an atau 40-an yang tidak mempunyai enzim di dalam tubuhnya.
Bayi Sehat dengan 100 Enzim
Bayi sehat yang masih minum ASI tanpa makanan tambahan lainnya ternyata mempunyai 100 jenis enzim. Hal ini tentu didukung oleh kondisi organ tubuhnya yang masih sehat, dan makanan ASI yang mengandung 100 jenis enzim.
Karena itu, sangat penting bagi para Ibu untuk memberi ASI selama mungkin pada bayinya. Tidak ada makanan lain yang mampu menggantikan ASI. Susu sapi segar hanya mengandung 3 jenis enzim. Susu yoghurt hanya mengandung 4 jenis enzim. Susu kaleng sudah tidak mempunyai enzim lagi.
Dari informasi ini, kita bisa menarik kesimpulan, bahwa enzim memang memegang peranan penting untuk kesehatan dan panjang umur.
Langganan:
Postingan (Atom)





